About the Book

Monday, May 31, 2010

RESENSI BUKU: BELAJAR DARI KELUARGA AMIEN RAIS




BANYAK buku yang ditulis orang tentang Amien Rais yang pernah menjadi news maker bahkan dijuluki the king maker. Buku mengenai sepak terjang dalam pentas politik nasional maupun menyangkut kehidupan pribadi dan keluarganya. Tetapi kehadiran buku yang ditulis oleh orang yang dekat, bergaul dengan sang tokoh sejak lahir dan merasakan suka duka bersamanya, akan terasa sangat istimewa. Seperti yang dituturkan putri kedua Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais dalam buku ini.

Hanum melihat ayahnya sebagai sosok yang patut diteladani bagi dirinya dan orang lain. Amien Rais menjadi sumber inspirasi bagi Hanum, bukan hanya karena pencapaian akademis dan politiknya, tetapi orientasi hidup dan pola pikirnya yang mencerminkan penghayatan keagamaan secara mendalam. Keluarga menjadi titik awal dan akhir dalam melangkah. Meskipun kesibukan kerja mengharuskan Amien Rais kerap meninggalkan keluarga, tetapi peran keluarga sangat signifikan. Restu orangtua dan dukungan istri dan anak menjadi daya dorong terpenting. Dicontohkan Amien Rais menolak tawaran menjadi calon presiden pada tahun 1999 saat tokoh-tokoh nasional mendukung sebab ibunya tidak mengizinkan.

Meski tidak hidup bergelimang kemewahan, keluarga Amien Rais sangat concern terhadap pendidikan putra-putrinya. Salah satunya tradisi membaca yang sangat kuat berikut penekanan pada penguasaan bahasa asing di keluarganya. Perhatian juga diberikan pada pembentukan karakter, kemandirian dan konsistensi. Putra-putri dibiarkan hidup mandiri, diajarkan kesulitan hidup, mencoba hal-hal baru dan berbuat kesalahan, membuat keputusan dan bertanggung jawab pada pilihan yang diambil. (hal 53-58).

Bagian terbesar penuturan Hanum pada perjuangan Amien Rais seputar perjuangan menjelang reformasi 1998 kemudian saat menjabat Ketua MPR RI (1999-2004) dan dilanjutkan saat pencalonan presiden 2004. Semangat amar ma'ruf nahi munkar menjiwai keberanian Amien Rais menggulirkan isu suksesi kepemimpinan berhadapan rezim Soeharto, bahkan juga dalam mengkritisi isu-isu nasional yang sensitif, kebijakan pemerintah dan tatanan global dunia. Amien juga mengajarkan keteguhan dan optimisme dalam meraih cita-cita saat mengajukan diri (diajukan) sebagai calon presiden 2004. Saat kegagalan yang terjadi dia menerima dengan kebesaran hati, legawa dan tawakal. Amien-lah yang paling awal mengumumkan kekalahannya dan mengucapkan selamat pada pemenang pilpres.

Masih banyak sisi kehidupan dari sosok Amien Rais sebagai pribadi, kepala keluarga, maupun pemimpin masyarakat yang coba dikupas menurut persepsi sang putrinya. Sisi kemanusiaan Amien Rais dikupas sewajarnya dengan kelebihan dan kekurangannya, kebahagiaan dan kesedihannya, tanpa perlu memujanya sebagai idola. Bagi mereka yang tidak suka dengan Amien Rais dengan membaca buku ini akan tahu gambaran yang sebenarnya tanpa perlu pembelaan, bahkan mungkin berbalik mencintai tokoh ini.

Hanum Salsabiela Rais adalah lulusan kedokteran gigi yang tertarik dunia jurnalistik televisi. Saat buku ini diterbitkan dia masih di Vienna Austria mengikuti studi suaminya. Mungkin karena sudah terasah ketrampilannya dalam dunia yang digeluti, gaya bahasa Hanum enak diikuti, ringan tetapi berbobot dan tidak ada kata yang sia-sia. Sebuah seni yang dikuasai dan menjadi salah satu kelebihannya sebagaimana ayahnya juga mempunyai ketrampilan dalam menulis dan berbicara yang lugas dan bermutu. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari buku ini, yang menjadikan kita lebih bijak. Sayang bila kehadiran buku ini dilewatkan begitu saja. q - g

(A Asranur Arifin, penikmat buku tinggal di Sleman)


Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Minggu tanggal 30 Mei 2010
http://www.kr.co.id/web/de tail.php?sid=216836&actmen u=45

Sunday, May 23, 2010

Talk Show, Apa Kabar Indonesia Minggu, TV ONE






Pada Minggu, 16 Mei 2010, kembali Hanum Salsabiela Rais mendapatkan undangan diskusi buku, kali ini dari program TV ONE Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan, dalam segmen Resensi Buku. Acara resensi ini kembali menghadirkan Drajat Wibowo sebagai penanggap. Melalui line telepon, Amien Rais juga bertelewicara selama satu segmen. Selain mengupas tentang buku Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta, obrolan di pagi hari ini juga menjadi ajang reuni Hanum dengan para koleganya di stasiun TV dulu, diantaranya Tina Talisa dan Bagus Priambodo yang kini bekerja di TV ONE

Tuesday, May 18, 2010

SINOPSIS BUKU


Amien Rais, ayah saya, tak bisa dipungkiri adalah sosok yang sering mengundang pro dan kontra di masyarakat, baik karena kritikan maupun pernyataaanya. Tidak mudah memahami pemikiran seorang Amien Rais, yang terkadang jauh mendahului jaman. Sebagai contoh ketika bapak, melontarkan ide suksesi pada tahun 1993 yang membuat Orde Baru meradang.


Buku ini lahir bukan untuk memberikan pembelaan, meluruskan atau membenarkan bagaimana sepak terjang seorang Amien Rais di kancah politik. Buku ini ringan bercerita tentang kisah kisah inspiratif dibalik panggung politik Amien Rais.


Dari cerita yang berasal dari diskusi meja makan, di mushola setelah sholat bersama, didepan televisi, ataupun saat berada dalam mobil bersama dalam sebuah perjalanan, saya tahu Bapak masih punya banyak impian besar untuk bangsa ini yang belum tertuntaskan.

Bagi saya, hari hari bersama bapak adalah hari yang berharga. Seolah memperoleh untaian emas setiap waktu bersama bapak, rasanya tak adil jika saya menyimpannya untuk diri sendiri. Melalui buku inilah saya ingin berbagi cerita kepada para pembaca dibalik sosok Amien Rais yang vokal namun bersahaja.

Bukan untuk menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin, tapi untuk bercerita ketauladanan dari keseharian Amien Rais sebagai pemimpin keluarga yang sangat saya kagumi.